Halaman

Hadits Menjadi Muslim Berkualitas

Hadits Menjadi Muslim Berkualitas

Hadits Menjadi Muslim Berkualitas

Muslim adalah sebutan bagi seorang yang menyerahkan dirinya pada jalan keselamatan, yaitu jalan tauhid dan ketundukan pada Allah SWT dan berlepas diri dari perbuatan syirik. 

Berislam, tentunya tidak hanya sekedar identitas, tapi perlu adanya pembuktian sebagai tolak ukurnya. Ukuran dan kriterianya tidak lain adalah rukun Islam yang lima sekaligus sebagai pondasi dasar Islam (ushul).

Kelima bangunan ini adalah bukti kongkrit keislaman seseorang, tapi, apakah lantas orang yang sudah melaksanakan seluruhnya dianggap sudah cukup? Tentu jawabannya tidak. 

Fase pertama dilalui sebagai bukti identitas keislaman seseorang, dimana dapat disebut sebagai fase kuantiti. Berikutnya adalah fase kualiti, artinya, seorang muslim harus benar-benar menjadikan amaliah ini berkelanjutan (istiqamah) dan berbobot (kualitas). 

Penulis akan membahas empat ciri muslim yang berkualitas sebagaimana banyak disebut dalam Hadits.

Memprioritaskan kualitas amal

Adalah muslim yang menempatkan amal dalam skala prioritas sebagai bukti keislamannya. Prioritas dimaksudkan di sini adalah akhir dari pelaksanaan amal di hadapan Allah SWT, diterima (maqbul) ataukah sebaliknya ditolak (mardud)? Agar amalan maksimal dan maqbul, harus dipadukan sifat raja’ (berharap) dan khauf (takut) dengan seimbang. 

Tidak boleh terlalu percaya diri bahwa seluruh amalan yang dilakukan akan Allah terima, tapi juga tidak boleh terlalu takut (pesimis) bahwa segala amalan yang dilakukan akan Allah tolak. Tapi menjadi pribadi muslim yang fokus pada kualitas amal seperti sabda Rasul Saw:

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ الهَمْدَانِيِّ ، أَنَّ عَائِشَةَ ، زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ :سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ: قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، وَيَسْرِقُونَ؟ قَالَ: “لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ ( رواه الترمذي)

Telah bercerita pada kami Ibn Abi ‘Umar, Sufyan, Malik bin Mighwal, dari Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb al-Hamdani, bahwa Aisyah istri Nabi Saw. berkata: Aku bertanya pada Rasulullah Saw. tentang ayat: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut’ (QS. Al Mu’minun: 60). 

Apakah mereka ini orang-orang yang minum khamr dan mencuri? Bersabda: “Tidak wahai Aisyah, tapi mereka adalah orang yang puasa, shalat, bersedekah, tapi mereka takut amalan-amalan mereka tidak diterima. Merekalah orang-orang yang senantiasa bersegera mengerjakan kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini terekam dalam Sunan At-Tirmidzi, no. 3175 dan Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 2537, dimana menurut kritikus Hadits Al-Albani, dinilai shahih. 

Terkait kata takut (wajilah), tabiin Hasan al-Bashri dalam Tafsir Ath-Thabari menjelaskan, bahwa seorang mukmin adalah orang yang terkumpul dua hal dalam dirinya: amal terbaik (berkualitas) dan (di sisi lain) khawatir (amalnya tidak diterima). 

Sedang munafik orang yang terkumpul dua hal pada dirinya, yaitu: buruk (amalannya) dan merasa aman (dari siksa Allah). Lalu Hasan Al-Bashri membaca (ayat), “Sesungguhnya (mereka) adalah orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka (QS. Al-Mu’minuun : 57).

Mengetahui salah satu inti amal-perbuatan adalah pahala surga

Ciri kedua yang dimiliki oleh Muslim yang berkualitas adalah surga, maksudnya, segala perbuatan (amalan) yang dilakukan hanya difokuskan pada pahala surga, bukan yang lain. Pahala surga yang diinginkan dapat tercapai, bila perbuatan yang dilakukan terbebas dari sifat angkuh (sombong) dan putus asa, Rasul Saw. bersabda:

حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ ، عَنْ سَلْمَانَ الأَغَرِّ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْهَلَاكُ فِي اثْنَتَيْنِ، الْقُنُوْطُ، وَاْلعُجْبُ (رواه ابن حبان)

Telah berkabar pada Hammad bin Salamah dari Atha’ bin Saib, dari Salman al-Aghar, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SA bersabda: Kebinasaan ada pada dua hal: Putus asa (dari rahmat Allah) dan membanggakan diri (dengan amalannya) (HR. Ibnu Hibban)

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya, no. 5671; Sunan Ibn Majah, no. 3569 dan Sunan al-Baihaqy, no. 1084. Pun membaca doa yang diajarkan Rasul pada istrinya:

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ : اللّهمّ إٍني أَسْأَلُكَ الْجَنَّـةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِن قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ النَّارِ، وَمَا قَـرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قولٍ أَوْ عَمَلٍ (رواه ابن ماجه)

Dari Aisyah, bahwa Rasulullah Saw mengajarkan doa ini: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, dan apa-apa yang mendekatkan aku padanya, baik perkataan maupun perbuatan. Dan aku berlindung pada-Mu dari neraka, dan apa yang mendekatkan pada, baik ucapan atau amal (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini terekam dalam Sunan Ibn Majah, no. 3846, Musnad Ahmad, no. 1484, dimana Al-Albani menilainya shahih (Silsilatu al-Ahadits as-Shahihah, no. 1542)

Hiasan hidup adalah akhlak mulia

Muslim berkualitas menyeimbangkan amalan fardi (pribadi) dan ijtima’i (sosial-muamalah) yang hemat penulis, ditekankan pada akhlak mulia, yang diibaratkan sebagai penyempurna suatu bangunan agar tampak indah dan menarik. 

Ia adalah hiasan diri muslim seperti Hadits hasan riwayat At-Tirmidzi (no. 1941) dan dalam hadits lain riwayat Abu Dawud (no. 4165), seorang muslim yang akhlakya mulia, derajatnya disamakan dengan orang yang rajian shalat dan puasa.

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا (رواه الترمذي)

Dari Jabir, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sungguh yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya (HR. At-Tirmidzi)

Inti hidup adalah kemanfaatan

Ciri terakhir seorang muslim berkualitas adalah memproduksi nilai manfaat (langsung ataupun tidak), artinya, seluruh amalannya tidak menimbulkan kerusakan, bahaya dan kerugian bagi orang lain. 

Ibarat lebah, yang digambarkan Nabi Saw. (riwayat Ahmad, no. 6872, di-shahih-kan Syekh Ahmad Syakir), selalu menebar kemanfaatan.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ مَطَرٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ قَالَ :وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد (رواه أحمد)

Bercerita pada kami Abdurrazaq, Ma’mar, dari Mathar, dari Abdullah bin Buraidah, berkata : Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah, selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. 

Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak (HR. Ahmad)

Al-Munawi dalam Faidh al-Qadir, menjelaskan bahwa lebah adalah hewan cerdas, jarang menyakiti, rendah (tawadlu), bermanfaat, selalu merasa cukup (qana’ah), bekerja di waktu siang, menjauhi kotoran, makanannya halal nan baik, ia tak mau makan dari hasil kerja keras lebah lain, amat taat pada pemimpinnya, berhenti bekerja bila telah gelap dan muncul mendung, angin, asap, air dan api. 

Demikian pula seorang mukmin, amalnya akan terkena penyakit bila terkena gelapnya kelalaian, mendungnya keraguan, angin fitnah, asap haram, dan api hawa nafsu. Wallahu a’lam bi–shawab.

Related Post

Tidak ada komentar